SAIBURI, PATTANI, THAILAND – Setelah dua pekan lamanya Kang Makin salah satu santri Pesantren Tahfidz Al-Qur’an MAJT-BAZNAS Jateng Yang mengikuti program International Short Course hanya bisa menatap hujan dan genangan air dari balik jendela, akhirnya pagi ini Senin, 1 Desember 2025, lonceng di Ma'had At-Tsaqofah kembali berdentang. Banjir besar yang sempat melumpuhkan aktivitas di Thailand Selatan, termasuk di distrik tempat ia mengabdi, akhirnya surut, menyisakan semangat baru yang luar biasa.
Senin pagi ini tidak seperti biasanya. Halaman sekolah dipenuhi ratusan santri yang kembali dengan seragam bersih mereka. Mereka berkumpul dalam sebuah Apel Akbar, sebuah momen emosional yang menandai dimulainya kembali kegiatan belajar mengajar di Ma'had At-Tsaqofah dan Saiburi Islam Wittaya.
Di atas mimbar, jajaran dewan yayasan bergantian memberikan sambutan. Namun, satu pesan yang paling membekas adalah tentang "Menata Niat". Bencana banjir selama 14 hari kemarin bukan sekadar jeda, melainkan ujian kesabaran. Para Ulama dan petinggi yayasan mengingatkan mereka semua bahwa setelah kesulitan, harus ada tekad yang lebih bulat untuk menuntut ilmu.
"Kita tidak hanya kembali ke kelas untuk membaca buku, tapi untuk memantapkan niat lillahi ta'ala setelah diingatkan oleh teguran alam," tutur Ketua Yayasan dalam bahasa Melayu campuran Thailand yang kental namun menyejukkan.
Momen yang membuat bangga sekaligus haru adalah saat Ketua Yayasan secara resmi memperkenalkan kang makin dan rekan-rekannya di hadapan ribuan pelajar dan guru.
"Ini adalah saudara kita dari Indonesia, delegasi dari pesantren Masjid Agung Jawa Tengah dan BAZNAS. Mereka akan mengabdi dan berbagi ilmu di sini," ucap beliau disambut hangat oleh ribuan pasang mata yang menatap mereka dengan penuh rasa ingin tahu dan persaudaraan.
Rasanya luar biasa. Identitas kang makin sebagai santri Jawa Tengah melebur menjadi satu amanah besar. Ia di sana bukan hanya untuk belajar, tapi untuk memberikan kontribusi nyata dalam pengabdian di ruang-ruang kelas Ma'had At-Tsaqofah.
Suasana berubah khidmat saat seorang ulama sepuh setempat maju untuk memimpin doa. Mereka semua menundukkan kepala di bawah langit Saiburi yang mulai cerah. Beliau memohon keberkahan agar proses belajar mengajar pasca bencana berjalan lancar, dijauhkan dari marabahaya, dan ilmu yang didapat menjadi cahaya bagi umat.
Doa tersebut menjadi penutup sekaligus pintu gerbang bagi tugas kang makin ke depan. Kini, lumpur sisa banjir mungkin masih ada di beberapa sudut jalan, tapi semangat di dalam kelas sudah kembali berkobar.
Tugas kang makin baru saja benar-benar dimulai. Dari Saiburi, ia belajar bahwa pendidikan dan dakwah tidak boleh kalah oleh keadaan.