Berita Pesantren

Dari Indonesia Menuju Thailand: Jejak Santri MAJT-BAZNAS, Hafidz yang Jadi Duta Pelajar Global

Santri Baru

SEMARANG, Muhammad Makinun Amin (23), santri pesantren MAJT-BAZNAS Jateng adalah cerminan dari perpaduan antara kekuatan spiritual dan intelektual. Di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa aktif Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang, ia tetap teguh sebagai santri penghafal Al-Qur'an di Pesantren Tahfidz MAJT-BAZNAS Jawa Tengah. Kini, ia membawa dua identitas tersebut menyeberangi batas negara sebagai delegasi International Student Outbond Mobility di Thailand. Menjembatani Pesantren dan Kampus Makin, sapaan akrabnya, terpilih untuk mengikuti program internasional yang berfokus pada pertukaran budaya dan studi keislaman di Thailand selama 2 bulan. "Rasanya senang sekaligus terharu. Kesempatan ini membuktikan bahwa santri tahfidz bukan hanya di bilik pesantren, tetapi juga harus mampu bersaing dan berinteraksi di level global," ujar Makin. Keberangkatannya merupakan kolaborasi antara pihak Pesantren Tahfidz MAJT-BAZNAS Jateng yang membidangi pembinaan spiritual, dan UNWAHAS sebagai wadah pengembangan akademiknya. Membawa Misi Hafalan dan Toleransi Sebagai seorang santri dan hafiz Al-Qur'an, salah satu misi utama Makin adalah memperkenalkan wajah Islam Nusantara dan metode menghafal Al-Qur'an ala Indonesia, sekaligus mempelajari pola pendidikan dan dakwah Islam yang diterapkan di Thailand, khususnya Thailand Selatan. "Di Thailand, umat Islam menjadi minoritas yang tangguh. Namun di sini, Saya belajar banyak tentang cara mereka mempertahankan tradisi keislaman, beradaptasi dengan budaya lokal, dan membangun toleransi antar-umat beragama. Ini adalah ilmu lapangan yang tak ternilai," jelasnya dengan antusias. Selain studi keislaman, Makin juga terlibat dalam kegiatan sosial dan presentasi budaya Indonesia di hadapan para pelajar dan komunitas lokal. Apresiasi atas Dukungan Umat Direktur Pesantren Tahfidz MAJT-BAZNAS Jateng, Dr KH Syaifudin MA, mengungkapkan kebanggaannya. Ia menyebut bahwa program ini adalah sesuatu yang luar biasa. "Saya mendukung sepenuhnya Outbond Mobility ke Thailand ini, karena akan membawa dampak dan pengalaman yang positif. Seperti salah satu syair yang diabadikan oleh Imam Syaafi’i adalah tentang hikmah safar, yaitu merantau dan bepergian. Imam Asy Syafi’i menyebutkan: تَغَرَّبْ عَنِ اْلَاوْطَانِ فِي طَلَبِ الْعُلَى # وَ سَافِرْ فَفِي الْاَسْفَارِ خَمْسُ فَوَائِدَ تَفَرُّجُ هَمٍّ، وَ اكْتِسَابُ مَعِيْشَةٍ # وَ عِلْمٌ وَ آدَابٌ وَ صُحْبَةُ مَاجِدٍ Mengasinglah (berpindahlah) ke banyak negeri untuk mencari kemuliaan dan bepergianlah. Dalam bepergian itu ada lima faedah yang bisa didapat, yaitu hilangnya kesusahan, mendapatkan penghidupan serta mendapatkan ilmu, tata krama, dan teman-teman yang mulia," tegasnya. Diharapkan, sekembalinya ke tanah air, Makinun Amin dapat berbagi pengalaman dan pengetahuan globalnya untuk semakin memajukan kualitas pendidikan para santri di Pesantren Tahfidz MAJT-BAZNAS dan juga di lingkungan kampusnya, Unwahas.