Berita Pesantren

Kajian Tafsir Tematik “Al-Mushowwir dalam Al-Qur’an” Bersama Dr. KH. Muh Syaifudin, MA

Santri Baru

Dalam kajian ini membahas salah satu Asmaul Husna, yaitu Al-Mushowwir (المصور) yang berarti Yang Maha Membentuk rupa. Kajian diawali dengan penjelasan makna bahasa dari kata ṣawwara, yaitu memberi bentuk, menggambar, membentuk, atau menjadikan sesuatu memiliki rupa dan susunan tertentu. Dari akar kata ini lahir makna bahwa Allah tidak hanya menciptakan makhluk, tetapi juga menentukan bentuk, ukuran, susunan, dan keindahan rupa setiap makhluk sesuai dengan kehendak-Nya. Dengan demikian, Al-Mushowwir menunjukkan kesempurnaan kekuasaan dan kebijaksanaan Allah dalam membentuk seluruh ciptaan.


Dalam Al-Qur’an, kata ṣurah dan turunannya disebutkan dalam beberapa ayat. Pada Surah Ghafir ayat 64, Allah menjelaskan bahwa Dia menjadikan bumi sebagai tempat tinggal, langit sebagai atap, kemudian membentuk manusia dan memperindah bentuknya serta memberikan rezeki yang baik. Ayat ini menunjukkan bahwa penciptaan manusia bukan sekadar adanya tubuh, tetapi juga disertai dengan keindahan, keserasian, dan kenikmatan hidup. Pada Surah At-Taghabun ayat 3, Allah kembali menegaskan bahwa Dia menciptakan langit dan bumi dengan benar, lalu membentuk manusia dengan sebaik-baik bentuk dan kepada-Nya seluruh makhluk akan kembali. Ayat ini menghubungkan antara penciptaan yang sempurna dengan tanggung jawab manusia di hadapan Allah.


Selanjutnya, Surah Al-Infithar ayat 6–9 mengingatkan manusia agar tidak tertipu oleh kenikmatan dunia sehingga durhaka kepada Allah Yang Maha Mulia. Allah-lah yang menciptakan manusia, menyempurnakan kejadiannya, menyeimbangkan susunan tubuhnya, dan menyusunnya dalam bentuk apa pun yang Dia kehendaki. Penekanan pada kesempurnaan dan keseimbangan tubuh manusia menunjukkan bahwa setiap anggota tubuh memiliki fungsi dan hikmah tertentu. Oleh karena itu, manusia seharusnya bersyukur dan tidak mendustakan hari pembalasan.


Puncak pembahasan terdapat pada Surah Al-Hasyr ayat 24, yang menyebut tiga nama Allah secara berurutan: Al-Khaliq (Maha Pencipta), Al-Bari’ (Maha Mengadakan dari tiada), dan Al-Mushowwir (Maha Membentuk rupa). Urutan ini menggambarkan tahapan penciptaan: Allah menetapkan penciptaan, mewujudkan makhluk, lalu memberikan bentuk yang berbeda-beda kepada setiap ciptaan. Tidak ada dua makhluk yang benar-benar sama secara sempurna, karena perbedaan bentuk, warna, ukuran, karakter, dan susunan merupakan bagian dari kehendak dan kebijaksanaan Allah. Seluruh makhluk di langit dan di bumi bertasbih kepada-Nya, menandakan bahwa penciptaan yang sempurna adalah bukti kemuliaan dan keagungan Allah.


Dari kajian ini dapat disimpulkan bahwa nama Allah Al-Mushowwir mengandung makna bahwa Allah adalah Dzat yang memberikan bentuk dan rupa terbaik kepada seluruh makhluk sesuai hikmah-Nya. Keindahan dan keragaman ciptaan merupakan tanda kekuasaan, ilmu, dan kebijaksanaan Allah. Bagi manusia, pemahaman terhadap nama ini menumbuhkan rasa syukur atas tubuh dan kehidupan yang diberikan Allah, mendorong untuk menggunakan nikmat tersebut dalam ketaatan, serta menyadarkan bahwa kesempurnaan hakiki hanya milik Allah semata.