HAT YAI, THAILAND – Perjalanan santri sekaligus mahasiswa delegasi Global Student MAJT-BAZNAS menuju Thailand Selatan ternyata jauh dari kata mulus. Misi membawa nama baik almamater itu diwarnai ketegangan di bandara, keputusan mendadak, dan maraton darat selama sepuluh jam demi mengejar janji pertemuan penting. Semua bermula di Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani, Semarang. Penerbangan awal Makin menuju Kuala Lumpur, Malaysia, mengalami penundaan (delay) yang tak terduga, molor hampir tiga jam dari jadwal seharusnya. "perasaan saya sudah khawatir dan takut terlambat sejak di Semarang. Waktu delay tiga jam itu memakan waktu transit di Kuala Lumpur, apalagi pesawat selanjutnya bukan connecting flight" kenang Makin. Detik-Detik di KLIA, Maraton di Gerbang Keberangkatan Ketika pesawat akhirnya mendarat di Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA), waktu keberangkatan pesawat lanjutan ke Hat Yai, Thailand, sudah di ujung tanduk. Bersama pendampingnya, Makin memutuskan untuk berlari kencang melintasi terminal yang masif. "Kami lari, benar-benar lari seperti maraton menerobos ramainya lautan manusia. Kami tidak mau mengecewakan pihak di Thailand yang sudah menunggu, apalagi pihak dari Thailand sudah menunggu di titik penjemputan" ujarnya. Nahas, ketika mereka tiba di gerbang boarding, pengumuman penutupan pintu pesawat sudah bergema. Pesawat yang akan membawa mereka langsung ke Hat Yai telah lepas landas. Pihak maskapai menawarkan solusi, tiket penerbangan pengganti pada hari esok, karena penerbangan rute Kuala Lumpur–Hat Yai diketahui hanya tersedia sekali sehari. Keputusan Darurat, Menolak Pesawat, Memilih Bus Namun, solusi tersebut menciptakan dilema. Agenda utama Makin di Hat Yai adalah pertemuan penting dengan Majelis Ulama Thailand Selatan pada pagi hari berikutnya. Menunggu sehari berarti membatalkan atau menunda pertemuan krusial tersebut. "Keputusan harus diambil cepat. Akhirnya, kami sepakat, lebih baik menempuh jalur darat dan merelakan tiket pesawat hangus daripada melewatkan pertemuan ulama yang sudah dijadwalkan jauh hari," jelas Makin. Tanpa membuang waktu, Makin dan pendampingnya segera mengurus tiket bus malam dari Kuala Lumpur menuju Hat Yai, sebuah perjalanan darat yang memakan waktu total sekitar sepuluh jam. Perjalanan panjang yang melelahkan itu akhirnya terbayar. Makin berhasil tiba di Hat Yai tepat waktu, meski harus mengorbankan waktu istirahat dan kenyamanan. Pengalaman ini mengajarkan Makin sebuah pelajaran penting, komitmen dan tanggung jawab seorang jauh lebih penting daripada lelahnya perjalanan. "Alhamdulillah, semua terlewati. Saya sudah bertemu ulama dan memulai kegiatan. Perjalanan ini menjadi cerita yang akan selalu saya ingat, bahwa untuk meraih ilmu dan menjalankan amanah, kita harus siap segala hal, termasuk berkorban," pungkas Hafiz muda itu, menyunggingkan senyum lega di kota gajah putih, Thailand.